Tafsir Surat At Tin

1. Wat tiini waz zaituun

“Demi Tin dan Zaitun,”

Kata Tin dalam Al Quran hanya disebut satu kali, yaitu dalam surat ini. Ada ahli  tafsir  yang  menyebutkan bahwa ‘tin’ adalah sejenis buah yang terdapat di Timur  Tengah.  Bila  matang,  warnanya  coklat,  berbiji seperti tomat, rasanya manis,  berserat  tinggi,  dan dapat digunakan sebagai obat penghancur batu pada saluran  kemih  dan  obat  wasir.  Oleh  sebab  itu,  pada  Al  Quran terjemahan Departemen Agama, kalimat Wattiin diartikan dengan “Demi buah Tin”

Kata  Zaitun  disebut  empat  kali  dalam Al Quran. “Zaitun” adalah sejenis tumbuhan  yang  banyak  tumbuh di sekitar  Laut Tengah, pohonnya berwarna hijau, buahnya  pun berwarna hijau, namun ada pula yang berwarna hitam pekat, bentuknya seperti  anggur,  dapat  dijadikan  asinan dan minyak yang sangat jernih. Zaitun dinamai  Al Quran sebagai syajarah mubaarakah (tumbuhan yang banyak manfaatnya). (baca Q.S. An-Nuur 24: 35)

Tidak  semua  ahli  tafsir  sependapat  bahwa  yang dimaksud Tin dan Zaitun adalah nama buah sebagaimana dijelaskan di atas. Ada juga yang berpendapat bahwa ‘Tin’  adalah  nama  bukit  tempat  Nabi  Ibrahim a.s. menerima wahyu, sedangkan ‘Zaitun’  adalah  nama  bukit di dekat Yerusalem tempat Nabi Isa menerima wahyu. Jadi  ‘Tin’  dan  ‘Zaitun’ adalah dua tempat yang dianggap bersejarah, karena di tempat itulah Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Isa a.s. menerima wahyu.

Kedua  pendapat  tersebut sama-sama memiliki alasan yang kuat. Namun, kalau kita  cermati konteks ayatnya, kelihatannya pendapat terakhir lebih logis karena pada  ayat berikutnya, yaitu ayat kedua dan ketiga, Allah swt. berfirman tentang bukit Sinai dan kota Mekah.

2. Wa thuuri siiniin

3. Wa haadzal baladil amiin

” dan demi bukit Sinai, dan demi kota Mekkah ini yang aman”

Hampir  seluruh  ahli  tafsir  sependapat kalau yang dimaksud ‘Thuur Sinin’ pada  ayat  tersebut  adalah  bukit Tursina atau lebih dikenal dengan nama bukit Sinai,  yaitu  bukit  yang  berada  di Palestina, tempat Nabi Musa a.s. menerima wahyu.  Sementara  yang dimaksud ‘Baladil Amiin’ adalah kota Mekkah, tempat Nabi Muhammad saw. menerima wahyu.

Dengan  ayat-ayat di atas Allah swt. bersumpah dengan empat tempat penting, yaitu  Tin, Tursina (bukit Sinai), Zaitun, dan Baladil Amin (kota Mekah), dimana pada  empat  tempat  tersebut  Nabi Ibrahim as., Musa as., Isa as., dan Muhammad saw.  menerima  wahyu  untuk memberikan bimbingan dan pencerahan hidup pada umat manusia.

Bimbingan  yang  diberikan para nabi dan rasul ditujukan untuk menjaga agar manusia  tetap  berada  dalam  kemuliaannya  karena  manusia adalah makhluk yang diciptakan  Allah  swt. dalam bentuk yang terbaik, sehingga dijelaskan pada ayat berikutnya,

4. Laqad khalaqnal insaana fii ahsani taqwiim

“sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dengan bentuk yang sebaik-baiknya,”

Allah  swt.  dalam  ayat  ini menegaskan secara eksplisit bahwa manusia itu diciptakan  dalam  bentuk  yang  paling sempurna. Ar-Raghib Al-Asfahani, seorang pakar  bahasa  Al Quran menyebutkan bahwa kata ‘taqwiim’ pada ayat ini merupakan isarat   tentang   keistimewaan   manusia   dibanding   binatang,  yaitu  dengan dikaruniainya  akal,  pemahaman,  dan  bentuk  fisik  yang tegak dan lurus. Jadi ‘ahsani taqwiim’ berarti bentuk fisik dan psikis yang sebaik-baiknya.

Kalau  kita  cermati  lebih  jauh,  sesungguhnya kesempurnaan manusia bukan hanya  sekedar pada bentuk fisik dan psikisnya saja, kedudukan manusia di antara makhluk  Allah  lainnya  pun  menempati  peringkat tertinggi, melebihi kedudukan malaikat,

“Dan  sesungguhnya  Kami  telah  memuliakan  anak Adam (manusia) dan Kami angkut mereka  di  darat  dan  di laut, dan Kami melebihkan mereka atas makhluk-makhluk yang Kami ciptakan, dengan kelebihan yang menonjol.” (Q.S. Al Isra 17:70)

Pada  prinsipnya, malaikat adalah makhluk mulia. Namun jika manusia beriman dan  taat  kepada  Allah  swt.,  ia  bisa  melebihi kemuliaan para malaikat. Ada beberapa   alasan  yang  mendukung  pernyataan  tersebut.  Pertama,  Allah  swt. memerintahkan kepada malaikat untuk bersujud (hormat) kepada Adam a.s. Saat awal penciptaan  manusia  Allah berfirman, “Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para  Malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali Iblis, ia  enggan  dan takabur dan ia adalah termasuk golongan kafir.” (Q.S. Al Baqarah 2:34)

Kedua,  malaikat  tidak  bisa  menjawab  pertanyaan  Allah  tentang al asma (nama-nama  ilmu  pengetahuan),  sedangkan  Adam a.s. mampu karena memang diberi ilmu  oleh  Allah  swt.,  “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian  mengemukakannya  kepada  para  malaikat,  lalu berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku  nama  benda-benda  itu  jika  kamu memang golongan yang benar. Mereka menjawab,  “Maha  Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau  ajarkan  kepada  kami;  sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha  Bijaksana.”  Allah  berfirman,  “Hai  Adam,  beritahukanlah  kepada mereka nama-nama  benda  ini.”  Maka  setelah  diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda   itu,   Allah   berfirman,  “Bukankah  sudah  Kukatakan  kepadamu,  bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan.” (Q.S. Al Baqarah 2:31-32).

Ketiga,  kepatuhan malaikat kepada Allah swt. karena sudah tabiatnya, sebab malaikat  tidak memiliki hawa nafsu; sedangkan kepatuhan manusia pada Allah swt. melalui perjuangan yang berat melawan hawa nafsu dan godaan setan.

Keempat,  manusia  diberi  tugas  oleh Allah menjadi khalifah di muka bumi, “Ingatlah  ketika  Tuhanmu  berfirman  kepada  para  malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi…” (Q.S. Al Baqarah 2:30).

Mencermati  analisis  di  atas,  bisa  disimpulkan  betapa Allah swt. telah memberikan  kemuliaan yang begitu tinggi pada manusia, bukan hanya yang bersifat fisik  dan  psikis, tapi juga dari segi kedudukannya. Namun, kalau manusia tidak mampu  mengemban amanah yang begitu besar, derajatnya akan turun ke tingkat yang paling  hina,  bahkan  bisa  lebih  hina  dari  binatang  sekalipun, sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikutnya.

5. Tsumma radadnaahu asfala saafiliin

“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya,”

Kalau  binatang menghalalkan segala cara untuk memenuhi kebutuhan perut dan syahwat  biologisnya,  kita tidak bisa mengategorikannya sebagai perbuatan hina, karena binatang tidak diberi akal dan nurani. Namun, kalau manusia melakukan hal yang sama seperti binatang, kita mengategorikannya sebagai perbuatan hina karena manusia  diberi  akal  dan nurani untuk mengontrol perbuatannya. Nah, kalau kita tidak  pernah  menggunakan  akal  sehat  dan  nurani untuk mengarungi kehidupan, berarti derajat kita anjlok ke level yang serendah-rendahnya. Agar  tidak  turun  ke derajat yang paling rendah, Allah swt. memerintahkan manusia  untuk  mengisi hidup dengan iman dan amal saleh, sebagaimana dijelaskan pada ayat berikutnya,

6. Illalladziina aamanuu wa’amilushshaalihaati falahum ajrun ghairu mamnuun

“Kecuali  orang-orang  yang  beriman dan beramal shaleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”

Orang  yang  tidak  akan  turun  pada  derajat  yang  paling  rendah adalah orang-orang   beriman.  Iman  secara  bahasa  bermakna  “pembenaran”.  Maksudnya pembenaran   terhadap  apa  yang  disampaikan  oleh  Nabi  Muhammad  saw.,  yang pokok-pokoknya  tergambar  dalam  rukun  iman yang enam; yakni (1) keesaan Allah swt.,  (2)  malaikat,  (3)  kitab-kitab suci, (4) para nabi dan rasul Allah, (5) hari kemudian, (6) takdir yang baik & buruk.

Peringkat iman dan kekuatannya berbeda antara satu dan saat lainnya. Begitu pula  dengan  kekuatan  iman  masing-masing  manusia, berbeda antara satu dengan lainnya.  Dalam  suatu riwayat, disebutkan bahwa ‘Al immanu yaziidu wa yanqushu’ (iman  itu  fluktuatif,  dapat bertambah dan bisa juga berkurang). Karena itulah kita wajib merawat iman agar tetap prima.

Seseorang  dapat  dikatakan memiliki iman yang kuat bila memenuhi ciri-ciri sbb:

1.  memiliki jiwa muraqabah, artinya selalu merasa dilihat, ditatap, dan diawasi Allah swt.

2. hatinya mudah tersentuh dengan nasihat-nasihat agama,

3.   berjiwa   tawakal,   pasrah   kepada   Allah   setelah   berikhtiar  dengan sungguh-sungguh,

4. selalu berkomunikasi dengan Allah dengan shalat dan doa,

5. memiliki kepekaan sosial, sehingga selalu menyisihkan sebagian hartanya untuk fakir miskin.

Ciri-ciri ini diambil dari firman Allah berikut ini,

“Sesungguhnya  orang-orang  yang  beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama   Allah  gemetarlah  hati  mereka,  dan  apabila  dibacakan  kepada  mereka ayat-ayat-Nya,  bertambahlah iman mereka, dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal.

Yaitu  orang-orang  yang  mendirikan  sholat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang   Kami   berikan  pada  mereka.  Itulah  orang-orang  yang  beriman  dengan sebenar-benarnya.  Mereka  akan  memperoleh  beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta nikmat yang mulia.” (Q.S. Al Anfal 8:2-4)

Setelah  beriman,  yang  bisa  menyelamatkan  manusia dari kejatuhan adalah ‘Amilus  shalihat’  (beramal  saleh).  Kalimat  ‘Amilus shalihat’ dalam Al Quran disebut  hingga  52  kali.  Kata  ‘amiluu  berasal  dari  kata  ‘amalun, artinya pekerjaan  yang  dilakukan dengan penuh kesadaran. Kata ‘shalihaat’ berasal dari kata ‘shaluha’, artinya bermanfaat atau sesuai.

Jadi,  amal  saleh  adalah  aktivitas yang dilakukan dengan penuh kesadaran bahwa pekerjaan itu memberi manfaat untuk dirinya maupun untuk orang lain, serta pekerjaannya  itu  sesuai  dengan  aturan-aturan  yang  telah ditentukan. Syaikh

Muhammad  Abduh  mendefinisikannya  sebagai  berikut,  “Amal saleh adalah segala perbuatan yang berguna bagi diri pribadi, keluarga, kelompok, dan manusia secara keseluruhan.”

Perlu  ditegaskan,  amal  saleh  harus  dibarengi dengan poin pertama yaitu iman. Tanpa iman kepada Allah swt., amal yang dilakukan akan sia-sia belaka.

“Dan Kami hadapkan segala amal baik yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang berterbangan.” (Q.S. Al Furqan 25: 23)

Maka  bagi orang-orang yang mengisi hidupnya dengan iman dan karya (amal saleh), bagi mereka “ajrun ghairu mamnun” (pahala yang tiada putus).

7. Famaa yukadzdzibuka ba’du biddiin

“Maka  apakah  yang  menyebabkan kamu mendustakan hari pembalasan sesudah adanya keterangan-keterangan itu?”

Bentuk  pertanyaan  pada  ayat  ini,  dalam  bahasa  Arab disebut “istifham inkari”,  mengandung  penegasan bahwa tidak ada alasan apapun yang patut membuat manusia  mendustakan  hari  pembalasan dan mengingkari ajaran-ajaran Allah swt., setelah mengetahui bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk yang paling mulia.

Surat  ini  kemudian  ditutup  dengan  kalimat bertanya yang bertujuan agar manusia mau berpikir.

8. Alaisallaahu biahkamil haakimiin

“Bukankah Allah itu Hakim yang seadil-adilnya?”

Seolah  ayat  ini  mengatakan, “Pikirkanlah wahai manusia, hanya Allah swt. Hakim  yang  Maha  Adil dan Maha Mengetahui kebutuhan kamu. Oleh sebab itu hanya aturan-aturan-Nya yang bisa memenuhi kebutuhanmu!”

Semoga  kita menjadi orang-orang yang dapat menjaga kemuliaan yang Allah berikan dengan selalu meningkatkan iman dan mengerjakan amal saleh.

Sumber : http://www.riwayat.web.id/2009/07/tafsir-surat-at-tin.html

Tentang mgmppaitgpriok

tempat bermusyawarah untuk tingkatkan kualitas
Pos ini dipublikasikan di Agama, Pendidikan dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s